Rabu, 12 Maret 2008

BUYER PALSU




Modus buyer palsu:

1.Buyer Palsu atau bertindak sebagai kuasa buyer banyak tingkahnya

2.Buyer Palsu selalu menyebutkan pinalti dalam perjanjian

3.Buyer Palsu sering megatakan bahwa diri beliau sibuk se akan2 orang penting,tidak ada waktu untuk melihat barang dan selalu meminta dibuatkan surat undangan dan cost sekian juta rupiah(2,5jt sd 10 juta rupiah) apabila beliau akan dibawa ke tempat pemilik barang.

4.Bicaranya ber belit2 seperti ular alias ngelantur

5.Buyer palsu selalu mengajak owner gambling

6.Buyer palsu tahu dan sudah mempelajari kelemahan benda2 ghoib(red.Baca MD di blog ini)
7.Buyer Palsu selalu menyebutkan ongkos mulu,sudah habis duit karena ditipu dll
8.Buyer Palsu sering menggunakan team worknya untuk memancing owner agar percaya alias terjerat dengan permainannnya/trik2/strategi.Kadang2 mereka mengataskan nama sebuah PT/CV sebagai jasa pembeli.9.Pake biaya test
Buyer seperti ini janganlah dipercaya,sesungguhnya mereka itu adalah CALO atau PENIPU hanya memanfaatkan keadaan untuk cari duit dari hasil keringat orang lain.Seperti halnya jual beli barang adalah sama2 membutuhkan,ump.owner pemilik motor yang akan dijual,buyer datang mencobanya,tidak berkenan dihatinya atau harga tidak sesuai maka seharusnya transaksi batal,dan mana mungkin pemilik motor membayar pembeli untuk ongkos dll.Setelah timbulnya Buyer Palsu,maka muncul pula jaringan Pemilik Palsu yang sebenarnya adalah kelompok dari BUYER PALSU.Hati2 dengan jenis manusia SETAN sep.ini!!!
Modus Pemilik Palsu

1.Selalu menawarkan surat2/dokumen benda yang dimilikinya

2.Apabila diminta fotonya,sangat banyak sekali alasannya

3.Meminta duit cape/cost saat mau melihat barang yang dimaksud dengan 1001 macam cerita

4.Seumpamanya barang yang dimaksudpun ada hanya sekedar untuk meyakinkan kuasa buyer/mediator saat datang meninjau

5.Saat akan transaksi benda tersebut tidak ada di tempat lagi,karena yakin sebelumnya benda tersebut ada,maka yang mengaku pemilik meminta uang dulu ke buyer,akhirnya diberikan dan owner pun lenyap,sedangkan tempat pertemuan bukanlah tempat beliau tetapi disewa dari pemilik tempat untuk beberapa hari
6.Benda sama tapi pemilik ganti2 atau selalu mengatas namakan HAJI A,HAJI B atau nama panggilan tertentu.
Hati2 dengan jaringan di Situbundo jawa timur,jaringan orang2 AWAK(Sumatra Barat di Batam dan Jakarta) dan daerah2 lain yang kelompoknya lebih kecil.MUDAH2AN BLOG INI BERGUNA UNTUK SELURUH PEMAIN BARANG2 ANTIK,DAN DAPATKAN MENCIPTAKAN SUASANA BARU YANG LEBIH BAIK DAN MASUK AKAL.

Senin, 03 Maret 2008

RAW GEM STONE



CHRYSOPORASSS,SEMI PRECIOUS GEM STONE.
WHEN POLISHED APPEARS TO BE EXCELLENT GEM STONES.
INI ADALAH BATU SEJENIS GIOK TAPI BUKAN GIOK BANYAK DIJUMPAI DI JAWA BARAT DAN PULAU BACAN DI MALUKU,DAN DI EXPORT KE CINA SEJAK TAHUN 70'AN UNTUK MEMBUAT PATUNG GIOK TIRUAN/PALSU.DI INDONESIA BEBERAPA HOME INDUSTRI YANG MELAKUKAN NYA.

Sabtu, 23 Februari 2008

GOLEK KENCONO


Benda ini dulu sempat populer.Mungkin Golek Kencono bukan lah nama asing lagi bagi pemain ghoib.Saat ini mau dihibahkan oleh pemiliknya.
Biasanya digunakan untuk rahayu,bisnis dll.
James
+628568744447
02191868659
Jakarta

KERIS2 BERDIRI






JANGAN MEMBELI DONGENG
tERIMA KSIH UNTUK bPK.sUMPENO dj DAN AHLI2 KERIS LAINNYA ATAS PENERANGANNYA

Kalau ada orang fasih mengutip tokoh-tokoh sejarah dan babad lebih dari para sejarahwan, bisa jadi dia bakul (pedagang) keris Namanama legendaris seperti Sultan Hasanudin, Paku Buwono X, Mangkunegoro IV, Pangeran Diponegoro, Joko Tole, dan sejenisnya, lebih sering dikutip di pasar keris dibanding di bangku sekolah.
"Pengetahuan" sejarah, seperti halnya kepandaian mengarang, 'psikologi terapan' dan ilmu klenik, rupanya merupakan nilai tambah tersendiri bagi salesmanship pedagang keris. Oleh karena itu, jangan cepatgrogi atau minder kalau seorang pedagang keris bilang bahwa pedangnya pernah dipakai Sultan Hasanudin membabat kepala Belanda atau tombaknya merupakan tunggul kerajaan Mojopahit. Sebaliknya, waspadalah, bisa jadi Anda sedang ada di tubir jurang penipuan.
Seorang kolektor bercerita membeli keris yang punya tiga bayangan, tapi sampai di rumah dua bayangan lainnya ketinggalan di rumah penjualnya. Ada lagi yang katanya cungpet, seperti remote control, kalau ditudingkan ke kobaran api, kebakarannya langsung mati. Percayalah, kalau sudah terlanjur membeli, tolong jangan Anda coba dengan membakar rumah Anda. Begitu pula, jangan coba yang katanya bisa dibakar sampai merah dan lantas bisa dijilatjilat. Dijamin, sakitnya pasti lebih dari sariawan.
***Seperti batu akik dan burung, terkadang harga sebuah keris menjadi jauh lebih mahal gara-gara dongeng penjualnya. Misalnya, bahkan keris yang sudah jelas pecah di tengah bilahnya karena kegagalan proses, malah disebut Combong, dan katanya justru dicari orang karena bisa dipakai melet wanita.
Oleh karena itu, "jangan beli dongeng," begitu nasehat Hadi Prayitno, seorang kolektor kawakan dari Surabaya. "Menurut pengalaman saya, biasanya kalau ceritanya hebat begitu, barangnya malah jelek," begitu guraunya.
Menurut perkiraan para pedagang,koleksinya bisa jadi melebihi n 10 ribu buah. Akan tetapi, yang asli hanya ratusan. Kabarnya, di antara koleksinya itu, terdapat sejumiah tombak raksasa iras, sambung sampai ke pegangannya dari besi, yang diperkirakannya sendiri sebagai tunggul kerajaan Mojopahit. Padahal, diangkatsaja begitu berat, bagaimana mungkin bisa dipakai perang.
Di antara jenis-jenis pemboman, yang paling subtil dan sulit dikenali mata awam adalah pemrosesan keris baru tapi tua, atau asli tapi palsu (aspal), menjadi tua. Jika penggarapannya handal, kadar pelapukan besinya bahkan lebih wajar dibanding keris-keris tua yang terawat kurang baik, karena bahan yang dipakai membuat keris-keris tua. Ditambah kecanggihan teknologi pembuatan sekarang, hasilnya cuma kalah riwayat saja dengan pusaka-pusaka yang sudah pakai gelar kyai atau kanjeng kyai itu.
Dari jaringan penjualannyapun terkadang sulit dikenali. "Sekarang ini dikenal istilah dibom dari desa", begitu ujar Toyib, seorang pengepol keris dari Jember. Artinya, keris tua aspal tersebut dilepaskan kepada para petani di desa-desa, sehingga bahkan sejak para pemburu dan pengepol tingkat desa, yang kebanyakan juga tak mempunyai pengetahuan perkerisan cukup mantap, sudah terkecoh.
Ketika seorang pemburu keris dari desa datang. Dengan serius ia memperlihatkan sebuah tombak yang sebelah bergambar naga, sebelah lagi bergambar lelaki sipit bertopi seperti tokoh serial TV Judge Bao, dengan ditambah deretan huruf Cina di atas kepalanya. Tombak hasil kamalan yang aslinya wonoaju (tak berpamor) itu, disebutnya sebagai tombak Sam Po Kong. Ketika Mustapha purapura serius tapi tak mampu membuang senyum dari wajahnya, pemburu desa itu wajahnya penuh tanda tanya. Kasihan, menilik harga penawarannya yang ratusan ribu rupiah, entah berapa dia membelinya di desa.
Semakin gencarnya pemboman dari desa ini, bersangkut-paut dengan semakin langkanya keris-keris tua yang canggih ditemukan di desa-desa, serta semakin semrawutnya tumpang-tindih jaringan pemburuan keris sebagai akibatnya.
"Dulu kita tak perlu cari, kepala desanya datang sendiri kemari bawa keris satu becak.
Sekarang sampai ke gunung-gunung, cuma dapat Pemekasan 9sebutan khas Madura untuk pamor Kulit Semangka) satu-dua bilah," demikian ujar Marsuji, kakek 85 tahun yang merintis perdagangan keris warga Madura di Jember. "Itupun permintaannya terkadang aneh-aneh. Misalnya, zaman mbahnya dulu sudah mau ditukar sapi, atau sawah sekian bahu," begitu tambah menantunya, yang sekarang meneruskan berdagang keris di Pasar Tanjung, Jember.
Kelangkaan ini mengakibatkan para pengepol, pedagang dan kolektor dari kota-kota besar seperti Surabay dan Malang, terjun sendiri ke desa-desa. 'Sekarang kacau, mereka bahkan ikut naik sampai desa-desa'", tambah Toyib. Bersamaan dengan itu mereka membawa keris aspal dan menukarnya dengan barang-barang asli dari desa.
Hadi Prayitno membenarkan situasi ini. Dia berkata, kalau mau berburu keris tak perlu ke kampung-kampung, dan berharap dapat rejeki nomplok, bisa murah karena pemiliknya tak mengerti. "Keris yang bagus pasti di tangan orang yang mengerti. Di kampung, kalau tak berpengalaman, salah-salah cuma dapat dongeng", tambahnya.
Surabaya sempat menjadi korban tudingan paling parah dalam kegiatan pemboman ini. Menurut cerita Asmoyo, seorang kolektor Surabaya bahkan saking marahnya menyebut para pedagang keris di Pasar Turi sebagai tukang gorok leher.

Betapapun, beberapa pedagang Pasar Turi merasa pernyataan semacam ini agak berlebihan. "Sekedar barang berputar saja. Memang, perdagangan keris seperti itu, karena dasarnya kepercayaan. Masing-masing kolektor mempunyai jalur hubungan sendiri-sendiri, yang tak mudah ditembus," begitu uiar Musratal.
Terlepas dari adanya silang pendapat dalam soal ini, pada umumnya mereka sepakat bahwa pemboman seperti ini sudah sampai taraf memprihatinkan. Masalahnya sempat menumpas minat kolektor baru, dan bahkan membuatsituasi pasar tak menentu. Dalam arti, membuat semrawut situasi penilaian, karena mereka bahkan sering mebalik-balik kenyataan dengan mengatakan koleksi asli seorang kolektor sebagai aspal atau bahkan duwung-duwungan.
Seorang kolektor lain mengatakan, sebetulnya pemboman di Jakarta juga sempat cukup parah, hanya saja karena korbannya para pejabat jadi tak cepat terbuka Masalahnya mereka banyak yang masih menganggap kerisnya sinengker dan karena itu relatif tak pernah diperlihatkan orang lain.
Menanggapi situasi mencemaskan ini banyak pedagang bersepakat untuk mengatasinya. Sementara dalam soal harga, ia memilih harga pas agar orang tak kejeblos dalam tawar-menawar.
Betapapun ada situasi kultural lebih menyeluruh yang menyulitkan upaya pemecahan sekadarnya semacam ini. Alam pikir klenik mempercayai barang tua lebih bertuah akan terus mendorong upaya pemalsuan karena barang-barang tua sendiri semakin langka saja. Padahal, di lain pihak, kualitas pembuatan keris dewasa ini sebetulnya justru telah meningkat pesat akibat bantuan tehnologi yang lebih modern. Misalnya saja, dengan adanya las sebagai pembantu pengikat menggantikan sekedar lilitan kawat baja, tatahan pamor yang kecil-kecil seperti pada Ron Genduru tidak larilari ketika ditempa, sehingga hasilnya juga lebih Oleh karena itu, barangkali, yang perlu didorong adalah penyadaran bahwa pada da sarnya keris adalah benda seni yang semula fungsional belaka. Dengan sophistikasi tehnik pamor, benda-benda ini lantas digurati semacam harapan tertentu, sehingga menjadi semacam sistim simbol yang kebetulan indah. Tapi tidak lebih dari itu. Pengagulannya yang melewati proporsinya sebagai karya budaya yang nyeni, memperlihatkan kemelencengan kultural yang berakar panjang.
Menyadarinya sebagai benda seni berarti mempertimbangkannya dengan kriteria obyektif sebuah perwujudan seni umumnya. Katakanlah, keindahannya, keutuhannya, keseimbangan proporsi bagian-bagiannya, komposisi ricikannya, kualitas besi dan pamornya, dan juga kekhasan sentuhan penggarapannya.
Memang, seperti umumnya benda seni yang dikoleksi, meminjam istilah pakar keris Bambang Harsrinuksmo (Pamor Keris), konsep ITU (indah, tua, utuh) memang tetap tak dapat dipungkiri. Akan tetapi, setidaknya unsur keindahan tidak terpuruk terlalu jauh di belakang unsur tua, yang sebetulnya sering dilebiharti kan sebagai tuah. Barangkali baru dengan demikian perkembangan seni keris dapat ber kembang wajar.
Jadi keris baru, mengapa tidak. Asalkan memang indah. Kecuali jika memang lebih senang beli dongeng.
James
+628568744447,02191868659
jakarta

FOUND MING JADE FOR SALE









Attached herewith are fotos of found jade buried treasures(83 pcs).We have taken some items to consultant gemmologist , and according to them the items are very old and pure jade nephrite.Unfortunately we have not enough money to settle for certificate of gem indetification,as we re only hunters.

We also need your further assistance to inform us if the items are genuine jade nephrite.We intend to sell them all and most probably you have interested buyer who really appreciate antiquity with reasonable price,and it is a beginning to start a business together.We are in Jakarta in Indonesia.We have more beautiful items to sell like burma jade and other ceramic and marbles antiques.For your further information Indonesia has no jade miners,and most probably the items were brought in by invaders or outsiders long time ago.


We look forward to hearing from you soon,and we really hope that this is the beginning to start a business with you or your clients.
Thank you

Regards
J a m e s
Cell phone: (+62)8568744447,02191868659
jamzyoung03@yahoo.com
jakarta-indonesia

Jumat, 15 Februari 2008

SAMURAI GALLERY







Period: Kanbun Shinto 1661
Mei: Mumei
Nagasa: 27 inches
Construction: Shinogi Zukuri
Nakago: Ubu
Yasurimei: Sujikai
Kitae: Itame
Hamon: Gunome with choji
Boshi: Ko-maru with hakikkake
Thickness at Munemachi is 5.5mm, at yokote is 5mm.

Habaki: Kaga style silver foil in very good condition.
Around 1661 (Kanbun Shinto), many swordsmiths left Seki, in Mino province, for Echizen province. During this time many blades were produced, and the particular style we hear of so often (Kanbun Shinto) was established. So, we now see that many blades are in the Shinto Tokuden tradition while still retaining some Mino (Seki) characteristics. Hirotaka, Kanenori, Kanetaka and many more quality smiths produced swords In Echizen.
This is a very well made sword with a very "crisp" feel to it. The polish is still healthy and in sashikomi finish. There is some light pitting at the kissaki, but I do not feel it warrants a polish, the sword can be enjoyed the way it is now without shortening it's life needlessly. The gunto mounts have what I was told is the Toda family mon, I am researching that. A beautiful piece.
James
+628568744447,02191868659
top_unique03@yahoo.com
jakarta

Kamis, 14 Februari 2008

JENIS2 SAMURAI







Aikuchi - Small tanto (knife) without a tsuba (hand guard)

Ashi - The band and ring found on the saya (scabbard) of a sword used to suspend the sword from a belt.
Buke zukuri - A traditional samurai style of mounts. Has a lacquered saya (scabbard),
tsuba (hand guard),

tsuka (hilt) bound in ito (silk cord),
fuchi - the ferrule (metal fitting) on tsuka (hilt) closest to tsuba (hand guard).


Ha - Cutting edge.

Habaki - The metal collar found in front of the tsuba (hand guard) that holds the blade in the saya (scabbard).

Ha-machi - Notch on cutting edge under habaki (collar).

Hamon - The temper pattern, a line of crystal (martensite) found between the shinogi (ridgeline) and edge of blade.
Hineri-maki - A style of tsuka-maki (hilt wrapping) where the ito (silk cord) is twisted.

Ishizuke - The end of the saya (scabbard), called a chape or drag, found the farthest way from the tsuba (hand guard). This term used with tachi type mounts and WWII style mounts as kai-gunto, kyu-gunto, shin-gunto Ito - Silk cord used to bind the tsuka (hilt).

Kabuto-gane - The pommel (metal fitting) on the tsuka (hilt) farthest from the tsuba (hand guard). This term used for tachi, kai-gunto and shin-gunto.

Kai-gunto - A naval sword (WWII period) styled to resemble a tachi (long sword worn cutting edge down) using black lacquered saya (scabbard) and ito (silk cord).

Kashira - The pommel (metal fitting) on the tsuka (hilt) farthest from the tsuba (hand guard). This is the term used for samurai katana (long sword), wakizashi (short sword), and tanto (knife).

Katana - A sword with blade length over two shaku (about 24 inches), mounted to carry cutting-edge up through the obi (wide belt).Kissaki - Tip of blade.
Kogai - A skewer carried in a pocket of the saya (scabbard) on some swords. Found on the omote (outside or away from the body when worn on the left side of the body) side.

Kuchi-gane - Throat of saya (scabbard).

Kozuka - A knife carried in a pocket of the saya (scabbard) on some swords. Found on the ura (inside or towards the body when worn on the left side of the body) side.

Kurikata - The cord knob found on the saya (scabbard) made of horn, wood or metal. The sageo (cord) is threaded through and used to tie the saya (scabbard) to the obi (belt).
Kyu-gunto - A European-style mounts with a D-hand guard and metal saya (scabbard).Machi - The notch found between the blade and the nakago (tang). The habaki (collar) slides on to the nakago (tang) to this point.

Mei - The kanji (characters) found on the nakago(tang). They usually state the blade maker's name and the date made. Mekugi - A small bamboo pin placed through a hole in the tsuka (hilt) that holds the tsuka (hilt) to the blade.
Mekugi-ana - The hole in the nakago (tang) which the mekugi (pin) goes through. There may be more than one.

Menuki - The ornament bound under the ito (silk cord) to improve grip on tsuka(hilt).
Mumei - An unsigned blade. No characters on nakago (tang).
Mune - The back of the blade.Mune-machi - The notch on the mune (back) used to keep the habaki (collar) from sliding forward.

Obi-tori - A suspension/hanging ring located on the saya (scabbard). Used to place sword on a belt hanger.
Origami - Certificate stating authentification of the sword. Issued by a professional Japanese sword judge.
Oshigata - A rubbing of the nakago (tang) signature.

Rio-Hitsu - The hole in the tsuba (hand guard) on some WWII style sword mounts. The hole is used for a saya (scabbard) retention clip.Same - The skin of a ray (a pearl ray like a manta ray). The skin has rounded nodules with few large nodules.
Saru-te - A metal loop used to affix a sword knot. The loop passes through the kabuto-gane (metal fitting on end of hilt).
Saya - A wooden case for the sword blade often called a scabbard.

Seppa - Washer or spacers located on either side of the tsuba (hand guard).
Shibabiki - An ornament used to bind the two halves of a wood saya (scabbard) together. On WWII style fitting used as decoration.
Shakudo - An alloy of copper, silver, and gold that has a rich black patina.

Shin-gunto - The WWII Japanese Army Officer sword mounts/fittings.Shinogi - A ridgeline located between the mune (back) and ha (edge) of a blade.
Sori - The curvature of the blade.

Tachi - A sword over 24 inches long in cutting length carried attached to the obi (belt) with edge down.
Tanto - A sword less than 12 inches in cutting length with a tsuba (hand guard).Tsuba - The hand guard located just forward of the tsuka (hilt).
Tsuka - The hilt of the sword.
Tsuka-maki - The art of tying the ito (silk cord) to the tsuka (hilt).
Tsumami-maki - A style of tsuka-maki (hilt wrapping) where the ito (silk cord) is pinched at the cross over point.
Wakizashi - A sword between 12 inches and 24 inches in cutting length.Yakiba - The tempered cutting edge.Yasurime - The file marks on the nakago (tang).Yokote - The dividing line between the body of the blade and the kissaki (point).
James
+628568744447,02191868659
top_unique03@yahoo.com
jakarta